Pengertian, Sifat, Konfigurasi Elektron Dan Contoh Unsur Transisi

Pengertian, Sifat, Konfigurasi Elektron, dan Contoh Unsur Transisi - Dalam sistem periodik unsur terdapat banyak unsur kimia yang disusun berdasarkan kemiripan sifat dari setiap unsurnya. Salah satu unsur kimia tersebut yaitu unsur transisi. 

A. Pengertian Unsur Transisi



Unsur transisi adalah sekelompok unsur unsur logam yang terletak pada golongan 3 sampai 12 (golongan IIIB sampai IIB) dan posisinya berada diantara golongan IIA dan IIIA. Apabila dilihat dari sisi periode, unsur transisi terletak pada periode 4 sampai 7.  

Penataan unsur transisi dalam sistem periodik unsur dikelompokan di blok D (unsur transisi) dan blok F (unsur transisi dalam). Adapun alasan unsur transisi  diletakan pada blok D dikarenakan unsur transisi memiliki elektron valensi pada subkulit 3d. 

Unsur transisi  merupakan unsur logam peralihan dari sifat logam ke sifat non logam. Unsur transisi ini terdiri dari 38 unsur sedangkan unsur transisi dalam ada 30 unsur. Unsur transisi dalam berada pada periode 6 (Lantanida) dan periode 7 (Aktanida). 

Namun posisi unsur transisi dalam terletak di luar sistem periodik unsur. Hal ini dikarenakan untuk memperpendek ruang penantaan unsur dalam sistem periodik unsur sehingga mudah dilihat dan dipahami. 

B. Sifat Sifat Unsur Transisi


Unsur transisi mempunyai kemiripan sifat yang khas dan berarturan antara lain sebagai berikut :

1. Sifat Fisika


a. Bersifat seperti logam pada umumnya 
b. Mempunyai masa jenis, titik didih, dan titik leleh yang tinggi dan relative sama
c. Senyawa unsur transisi berwarna
d. Penghantar panas dan listril yang baik


2. Sifat Kimia


a. Sifat Logam

Dalam satu periode, sifat logam dari unsur transisi semakin berkurang hingga menuju non logam. Sedangkan pada satu golongan , sifat logam dari unsur transisi semakin bertambah kelogamannya. Unsur transisi mempunyai sifat logam karena unsur transisi memiliki kecenderungan membentuk ion positif dengan melepaskan elektron valensi nya yang terletak pada subkulit 4s.

b. Senyawa unsur logam transisi  berwarna

Sifat khas unsur transisi adalah senyawa nya berwarna. Biasanya logam warnanya perak keputihan namun dalam unsur logam transisi tidak perak keputihan warna nya. Warna unsur logam transisi di sebabkan karena adanya perpindahan elektron pada subkulit 3d ke tingkat yang lebih tinggi. Saat elektron berpindah, elektron tersebut mengeluarkan energi dan memancarkan warna cahaya. Hal inilah yang membuat senyawa unsur transisi berwarna

Namun, pada unsur Zn2+ tidak memiliki warna karena subkulit 3d nya sudah terisi penuh oleh elektron sehingga tidak terjadi perpindahan elektron. Selain pada unsur Sc3+ dan Ti4+ juga tidak berwarna karena subkulit 3d nuya tidak berisi alias kosong.

3. Mempunyai beberapa tingkat bilangan oksidasi

Seperti yang sudah di jelaskan bahwa unsur transisi lebih cenderung membentuk ion positif dengan melepaskan elektron valensinya. Akibat dari pelepasan elekrtron ini menyebabkan unsur transisi memiliki berbagai macam tingkat bilangan oksidasi kecuali Sc dan Zn (hanya memiliki bilangan oksidasi +3 dan +2). Sebagai contoh unsur transisi yang memiliki bilangan oksidasi lebih dari satu adalah Fe yang mempunyai bilangan oksidasi +2 dan +3.

4.Mampu Membentuk Senyawa Ion Kompleks

Senyawa kompleks terdiro dari atom pusat dan ligan. Atom pusat biasanya bermuatan positif yang berupa unsur transisi. Unsur transisi ini akan melepaskan elektron sehingga bermuatan postitif dan menyediakan tempat ruang orbital kosong untuk bergabung dengan ligan membentuk senyawa kompleks. Contohnya ion besi (III) membentuk ion kompleks [Fe(CN)6].

5. Bersifat Katalisator Dalam Reaksi

Beberapa unsur transisi mempunyai kemampuan untuk mengkatalis suatu reaksi. Katalis sendiri adalah suatu zat yang dapat mempercepat reaksi Suatu zat katalis akan terlibat dalam reaksi kimia namun setelah reaksi berakhir katalis bisa berubah kembali ke bentuk awal nya.

Terdapat peranan katalis antara lain pengaktifan reaktan oleh sebab kemampuan adsorpsi, pembentukan senyawa kompleks, maupun proses redoks atas variasi tingkat oksidasi unsur transisi.
Adapun macam macam katalis yang biasa dikenal contohnya seperti katalis homogen, katalis heterogen, katalis fisiorpsi, dan katalis kemisorspi.

Unsur transisi bisa berperan sebagai katalis, salah satu contoh katalis unsur transisi yaitu ion Cu2+ yang membantu reaksi enzim sitokrom oksidase dalam proses mengoksidasi makanan. 

Selain itu, dalam bentuk senyawa unsur transisi juga bisa sebagai katalis antara lain TiCl3 (Polimerasasi alkena pada pembuatan plastic), V2O5(proses kontak pada pembuatan margarine), dan Cu atau CuO (oksidasi alcohol pada pembuatan formalin).

6. Sifat Kemagnetan

Unsur transisi memiliki sifat kemagnetan meliputi feromagnetik, paramagnetik, dan diamagnetik. Sifat kemagnetan inilah yang membuat unsur transisi dapat di tarik ke medan magnet. Hal yang membuat unsur transisi memiliki sifat kemagnetan dikarenakan adanya elektron yang tidak berpasangan. Semakin banyak elektron yang tidak berpasangan maka semakin kuat sifat kemagnetannya. 

Adapun penjelasan sifat kemagnetan unsur transisi sebagai berikut :

a. Feromagnetik adalah sifat kemagnetan unsur transisi yang paling kuat. Contohnya : Fe, Co, dan Ni

b. Paramagnetik yaitu sifat kemagnetan yang membuat unsur transisi dapat ditarik ke medan magnet dikarenakan adanya elektron yang tidak berpasangan. Contohnya : Sc, Ti, Cr, Mn, dan V

c. Diamagnetik merupakan sifat kemagnetan paling lemah bahkan tidak ada sifat magnet nya sehingga tidak dapat ditarik ke medan magnet. Adapun penyebab nya karena semua elektron sudah mengisi penuh pada orbitalnya. Contohnya : Cu dan Zn

Dari beberapa sifat kemagnetan diatas semuanya memiliki ukuran sifat kemagnetan yang dinyatakan dengan besaran momen magnetik dalam satuan BM (Bohr Magneton). Untuk mengukur tingkat sifat kemagnetan unsur bisa digunakan rumus sebagai berikut :

                          Ms = √n (n+2) BM
Keterangan :
- Ms = Tingkat kemagnetan
- n = Banyak nya elektron yang tidak berpasangan


7. Jari Jari Atom (Ukuran Atom)

Dalam satu periode , jari jari unsur transisi semakin berkurang dikarenakan jumlah proton semakin bertambah sehingga membuat gaya tarik inti semakin kuat dan alhasil menjadikan jari jari atom semakin pendek. Hal ini tentu akan membuat ukuran atom semakin kecil 

Sedangkan pada satu golongan , jari jari atom unsur transisi semakin panjang khususnya pada periode 4 - 5, namun pada periode 6 - 7 panjang jari jari atom semakin berkurang. 

8. Energi Ionisasi Pertama

Energi ionisasi pertama adalah besarnya energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron valensi pertama yang berada di subkulit 4s. Pada satu periode, energi ionisasi elektron petama dari unsur transisi semakin besar. Sedangkan , dalam satu golongan energi ionisasi pertama nya semakin kecil

9. Elektronegativitas

Dalam satu periode, elektronegativitas unsur transisi semakin besar khususnya pada periode 4 - 5, namun pada periode 6 - 7 elektronegavitas tidak begitu meningkat secara signifikan dengan ditunjang kerapatan atom nya meningkat drastis. Sedangkan  dalam satu golongan,  elektronegativas nya semakin kecil

10. Kerapatan

Kerapatan unsur transisi dalam satu golongan cenderung semakin meningkat. Sedangkan , pada satu periode kerapatan nya semakin menurun.


C. Konfigurasi Elektron Unsur Transisi

Konfigurasi elektron bisa menggambarkan kemungkinan posisi adanya elektron berdasarkan urutan dan tingkat energinya.  Untuk menuliskan konfigurasi elektron bisa menggunakan diagram aufbau.  Diagram aufbau ini berisi urutan subkulit elektron dari tingkat energi terendah sampai tertinggi. Dalam hal ini pengisian elektron di awali dari subkulit dengan tingkat energi terendah sampai tertinggi. 

Namun tidak semua konfigurasi elektron unsur bisa akurat dan tepat dengan menggunakan diagram aufbau. Penggunaan diagram aufbau hanya benar dan akurat untuk penulisan konfigurasi elektron unsur sampai nomor atom 20.

Untuk unsur transisi, konfigurasi elektronnya disusun oleh konfigurasi elektron gas mulia terdekat yang memiliki nomor atom lebih kecil dan di ikuti kekurangan elektronnya. Hal mencolok yang membedakan konfigurasi unsur transisi dengan unsur lainnya seperti logam alkali / alkali tanah adalah konfigurasi elektron unsur transisi jika mengion tidak mempunyai konfigurasi elekton unsur netral pada bagian elektron dalamnya.

Konfigurasi elektron unsur transisi periode 3 dengan nomor atom 23 ke atas memiliki konfigurasi elektron yang berbeda karena pada subkulit elektron terluarnya yaitu subkulit 4s tidak menyisakan elektron (kosong) sebab elektronnya tertarik ke subkulit 3d yang memiliki tingkat energi lebih rendah.

Secara umum , rumusan konfigurasi elektron unsur transisi dari periode 4 - 7 adalah [Gas Mulia] ns^2 (n - 1)^x. 

Namun disamping itu khusus untuk unsur transisi dalam pada periode 6 dan 7 , rumus konfigurasi elektronnya adalah [Gas Mulia] ns^2 (n - 2) f^14 (n - 1) d^x.

Keterangan :
n = periode unsur transisi
x = total lektron pengisi orbital d yaitu nilainya 1 - 10 elektron


D. Contoh Unsur Transisi


Unsur transisi terletak pada periode 4 - 7. Beberapa contoh unsur transisi pada periode 4 antara lain skandium (Sc), titanium (Ti), vanadium (V),krom (Cr), mangan (Mn), besi (Fe), kobalt (Co), nikel (Ni), tembaga (Cu), dan seng (Zn).

Demikian artikel yang bisa saya bagikan mengenai Pengertian, Sifat, Konfigurasi, Dan Contoh Unsur Transisi. Semoga bisa bermanfaat bagi anda semua

Terima kasih


















Belum ada Komentar untuk "Pengertian, Sifat, Konfigurasi Elektron Dan Contoh Unsur Transisi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel