Percobaan Kromatografi Lapis Tipis (Kimia Organik 2)



Kromatografi Lapis Tipis
Kromatografi Lapis Tipis

Tujuan Percobaan

Percobaan kromatografi lapis tipis dilakukan untuk membuat pelarut yang cocok dalam kromatografi, mengukur Rf senyawa, dan mampu memurnikan atau mengidentifikasi dengab kromatografi


Alat Dan Bahan


Dalam percobaan ini diperlukan alat utama yaitu plat KLT , chamber, mortar, pipa kapiler, dan gelas beaker. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain sampel alam (kunyit) , metanol, diklorometana, heksana, dan kloroform


Pengantar Percobaan


Kromatografi lapis tipis adalah sebuah metode pemisahan dan pemurnian komponen senyawa dalam suatu sampel menggunakan pelarut eluen dan plat KLT yang melibatkan fasa diam dan fasa gerak.


Proses Percobaan 


Pada percobaan ini digunakan bahan utama berupa sampel alam (kunyit). Kunyit tersebut dihaluskan dengan mortar dan ditambah metanol supaya senyawa yang terkandung dalam sampel larut sehingga akan mempermudah proses pemurnian senyawa dari sampel tersebut. Selain itu, bahan pelarut eluen yang digunakan adalah diklorometana dam heksana sebagai fasa gerak serta plat KTL sebagai fasa diam nya.

Fasa diam akan tertinggal dalam sistem sedangkan fasa gerak akan memisahkan komponen senyawa dalam sampel ke bagian atas plat KLT. Naiknya senyawa dalam sampel ke bagian atas berdasarkan sifat kepolaran pelarut eluen yang digunakan. 

Hal itu terjadi pada samel kunyit yang telah dihaluskan dan ditotolkan pada plat KLT tepat ditengah batas bawah lalu di celupkan dalam pelarut eluen yang telah dicampurkan dengan perbandingan tertentu. Perbandingan tertentu yang digunakan yaitu 1 : 2 dan 2 : 1. 

Ketika perbandingan eluen diklorometana : heksana adalah 1 : 2 terdapat sedikit noda yaitu satu noda. Satu noda itupun menunggu naiknya lama banget. Hal itu dikarenakan kadar pelarut eluen polar (diklorometana) kurang banyak atau lebih sedikit dari pelarut eluen non polarnya (heksana) sehingga butuh waktu cukup lama untuk senyawa sampelnya naik. 

Namun apabila diinginkan noda senyawa sampel cepet naik dan nodanya banyak maka pelarut eluen diklorometana perlu di tambah. Hal tersebut sesuai dengan hubungan fasa gerak dengan kepolaran eluen bahwa semakin polar eluen maka fasa gerak senyawa sampel senakin cepat. Selain itu, semakin polar eluen akan mempermudah membawa senyawa sampel ke bagian atas sehingga jarak antar noda akan semakin besar 

Pada perbandingan pelarut eluen lain yaitu diklorometana : heksana = 2 : 1 , terdapat lebih banyak jumlah noda serta jarak noda nya panjang. Untuk melihat noda senyawa yang terbentuk bisa menggunakan mata telanjang atau dibawah lampu UV jika tidak terlihat secara kasat mata

Dari data noda senyawa dan jarak noda yang di dapatkan maka bisa dihitung nilai Rf senyawa dengan rumus :

Rf : Jarak tempuh zat terlarut / Jarak tempuh pelarut

Apabila hasil nilai Rf telah ketemu maka bisa diketahui hubungan Rf dengan jarak noda senyawa sampel yaitu bahwa semakin besar nilai Rf senyawa maka semakin panjang jarak bergeraknya noda senyawa sampel pada plat KLT. Dan senyawa yang memiliki nilai Rf lebih besar berarti mempunyai kepolaran rendah dan begitu pula sebaliknya. Senyawa yang lebih polar akan tertahan kuat pada fasa diam (sulit naik) sehingga nilai Rf rendah


Kesalahan Dalam Percobaan


Dari data percobaan ini ada ketidaksesuaian dengan teori yang ada. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :

1. Bahan yang digunakan ada yang menguap khususnya heksana

2. Kurang bagusnya kualitas sampel kunyit yang digunakan

3. Perbandingan pelarut eluen yang digunakan kurang tepat

4. Kurang nya kemiringan saat peletakan plat KLT dalam chamber

5 . Plat KLT dalan chambet dibiarkan dalam kondisi terbuka

Tugas Dalam Percobaan 


1. Bagaimana cara menentukan pelarut yang cocok untuk sampel tertentu ?

Untuk mentukan pelarut yang cocok digunakan cara trial and eror atau coba coba. Dalam coba coba yang dilakukan pastikan tetap menggunakan pedoman dimana pelarut yang digunakan diperhatikan tingkat kepolarannya , kemampuannya membentuk ikatan hidrogen dan reaktivitas suatu eluen

2. Berapa daerah Rf yang baik untuk identifikasi ?

Daerah Rf yang bagus untuk identifikasi adalah berkisar 0,2 - 0,8


Belum ada Komentar untuk "Percobaan Kromatografi Lapis Tipis (Kimia Organik 2)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel