Penentuan Besi (III) Oksida Secara Gravimetri (Kimia Analitik)

Besi (III) Oksida
Besi (III) Oksida

A. Tujuan Percobaan

Percobaan "Penentuan Besi (III) Oksida" termasuk dalam kimia analisis kuantitatif. Percobaan ini memiliki tujuan untuk memahami prinsip dasar gravimetri dan menentukan kadar besi dalam garam Mohr. 


B. Alat Dan Bahan Percobaan

Adapun beberapa bahan yang digunakan antara lain larutan HCl 1:1 , kristal garam Mohr, amonia 1:1, asam nitrat, amonium nitrat 1%. Sedangkan, alat yang digunakan yaitu gelas beaker, erlemmeyer, kurs porselin, kompor, corong, kertas saring, dan muffle.


C. Metode Analisis Dan Prinsip Dasar Gravimetri


Pada dasarnya percobaan ini dilakukan dengan metode Gravimetri yaitu metode analisis yang dilakukan dengan prinsip pengendapan lalu penimbangan. Adapun prinsip dasar dari gravimentri antara lain sebagai berikut :

1. Melarutkan analit (membuat larutan)
2. Mengatur keadaan larutan
3. Membentuk endapan
4. Menumbuhkan kristal endapan
5. Menyaring dan mencuci endapan
6. Memanaskan dan memisahkan endapan
7. Mendinginkan dan menimbang endapan


D. Proses Dalam Percobaan


Dalam percobaan ini akan melewati beberapa proses antara lain pemanasan, penyaringan, pengendapan, dan pengeringan. Dari semua proses tersebut, nantinya akan di fapatlan endapan Fe2O3

Sebelum melangkah ke proses tersebut, perlu dilakukan pembuatan larutan dengan melarutkan 1,3 gram garam Mohr, 50 ml akuades, 10 ml HCl 1:1, dan 2 ml HNO3. Penambahan larutan HClemiliki tujuan untuk melarutkan besi dalam sampel garam Mohr menghasilkan Fe (OH)3 dan hidrogen. Sedangkan, maksud dari penambahan asam nitrat yaitu untuk mengoksidasi ion Fe2+ menjadi Fe3+. 

Dari pencampuran beberapa bahan tersebut diperoleh larutan berwarna kuning cerah (muda). Warna kuning ini menunjukan adanya halida klorida. Semakin pekat atau tua warna kuningnya maka semakin banyak kandungan kloridanya. Setelah itu, larutan dalam gelas beaker dipanaskan dengan kompor. Pemanasan dibarengi dengan pengandukan dan di tambah akuades sampai 200 ml. Ketika ditambah akuades warna kuningnya hilang, menjadi bening. 

Pengadukan tetap dilanjutkan , dengan menambahkan amonia secara bertetes tetes sampai warna larutan berubah menjadi coklat kehitaman. Warna coklat kehitaman ini menunjukan terbentuknya Fe (OH)3.Selain warna nya, larutan yang diperoleh juga memiliki bau khas yang menyengat yang tidak lain tidak bukan berasal dari amonia itu sendiri. Penambahan amonia yang dilakukan bertujuan untuk mengendapkan larutan menjadi Fe (OH)3. Namun endapan tersebut tidak terlalu terlihat karena tertutup warna coklat kehitaman. Oleh karena itu, perlu di biarkan sejenak sambil menunggu dingin agar bisa terbentuk endapan Fe (OH)3 secara sempurna.

Setelah dibiarkan beberapa saat maka endapan Fe (OH)3 akan terbentuk. Dari endapan tersebut kemudian disaring dengan kertas saring dan endapannya di panaskan lagi dalam gelas braker sambil di tambahkan amonium nitrat secara bertetes tetes. Penambahan amonium nitrat bermaksud untuk mencuci endapan agar terbebas dari klorida. Proses pencucian ini dilakukan beberapa kali hingga endapan bersih dari unsur klorida. Dalam proses ini, endapan Fe (OH)3 akan terhidrasi membentuk endapan Fe2O3 

Proses selanjutnya, dilakukan penyaringan kedua untuk menyaring endapan Fe2O3. Endapan Fe2O3 ini sudah bebas dari klorida. Setelah disaring, endapan dimasukan dalam kurs porselin untuk dikeringkan dalam muffle. Apabila endapan sudah kering maka bisa ditimbang berat endapan Fe2O3. Dari berat endapan ini , maka bisa di cari masa dan kadar Fe3+ daam endapan Fe2O3 menggunakan rumus berikut ini :

Massa Fe3+ = Ar Fe / Mr Fe2O3 x Berat endapan Fe2O3

Kadar Fe3+ = Massa Fe3+ / Masaa sampel x 100%


E. Kesalahan Dalam Percobaan


Berdasarkan dari hasil praktikum bisa saja tidak sesuai dengan teori yang ada. Hal itu dikarenakan oleh beberapa faktor antara lain :

1. Penyaringan tidak sempurna sehingga mungkin ada ion yang ikut terbawa

2. Pencucian endapan tidak maksimal dan tidak merata

3. Penambahan larutan amonia terlalu berlebihan sehingga membuat endapan lebih banyak terbentuk dari yang normal

4. Kurang teliti dalam penimbangan



















































Belum ada Komentar untuk "Penentuan Besi (III) Oksida Secara Gravimetri (Kimia Analitik)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel